Pages

Minggu, 11 Januari 2015

Hubungan Teknologi dan Kemiskinan di Masyarakat

Dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, dikatakan maju atau tidaknya sebuah negara dilihat dari seberapa jauhnya pemahaman seseorang dalam kemajuan teknologi saat ini. Teknologi yang makin berkembang saat ini membuat seorang individu mau tidak mau harus mengikuti baagaimana perkembangan teknologi yang semakin maju pesat begitu mempengaruhi akan kemajuan negaranya itu sendiri. Jikalau suatu negara tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi saat ini bisa saja angka kemiskinan yang sedang gencar untuk dihapuskan tiba-tiba meningkat drastis sehingga akan sulit bagi pemerintah untuk mengurangi dan menstabilkannya.
Dilihat dari berbagai teori tentang teknologi, misalkan saja menurut Walter Buckingham, teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni industri, oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya efisiensi kerja menurut keragaman kemampuan. Atau menurut pengertian lain, teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada. Teknologi digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis serta untuk mengatasi semua kesulitan yang mungkin dihadapi manusia. Teknologi kadang sering disanding-sandingkan dengan ilmu hingga ada sebuah ungkapan ilmu tanpa teknologi adalah steril dan teknologi tanpa ilmu adalah statis yang berarti ilmu tanpa teknologi tidak berkembang dan teknologi tanpa ilmu tidak berakar.
Dilihat dari seberapa jauh perkembangan teknologi saat ini, kita tidak bisa menghindari suatu keadaan dimana sebuah negara yang memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi disebabkan oleh keterbatasan negara tersebut akan perkembangan teknologi yang bisa saja mampu memumpuni negaranya agar bisa lebih berkembang lebih pesat lagi. Kemiskinan merupakan masalah global, maksudnya adalah suatu keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasanya sering kita butuhkan seperti makanan, pakaian, material, tempat tinggal, dan hal ini sangat berkaitan eratnya dengan kualitas hidup seseorang. Kemiskinan juga bisa berarti terhambatnya akses seseorang untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, kesehatan, serta pekerjaan yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan status yang tepat untuk dihormati layaknya warga negara pada umumnya.
Penyebab terjadinya kemiskinan bisa disebabkan oleh:
  • Penyebab individual atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, kemampuan, atau pilihan dari orang yang mengalami kemiskinan tersebut
  • Penyebab Keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga
  • Penyebab sub-budaya (sub cultural) yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar
  • Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah dan ekonomi
  • Penyebab struktural yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial
Untuk mencegah terjadinya kemiskinan yang berkelanjutan, ada beberapa bisa dilakukan seperti memberikan bantuan berupa material ataupun non material kepada pihak yang membutuhkan, dan sebagainya yang mungkin bisa mengurangi tingkat kemiskinan secara bertahap.
Dari semua kesimpulan yang sudah di uraikan diatas, dapat dikatakan bahwa suatu negara apabila ingin meraih kemajuan yang pesat maka negara tersebut harus mulai memahami dan mengikuti segala perkembangan teknologi yang saat ini sedang happening agar angka kemiskinan yang semakin meningkat bisa diatasi dan dikurangi supaya warga negara yang mendiami negaranya bisa lebih memiliki akses yang luas untuk mendapatkan segala fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan, pekerjaan, serta secara tidak langsung negaranya bisa maju dan berkembang lagi dari sebelumnya.
Contoh Kasus:
Pengangguran dan Kemiskinan Tertekan Tipis
Metrotvnews.com, Jakarta: Dua indikator kesejahteraan pada 2014 yakni tingkat pengangguran dan kemiskinan diasumsikan
tertekan tipis pada proyeksi RAPBN 2014. Mencermati kondisi tersebut, pemerintah membuat kebijakan dan alokasi anggaran untuk memperluas perlindungan sosial kepada masyarakat dan lingkungan, antara lain Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).
“Diharapkan pada 2014, tingkat penangguran dan angka kemiskinan itu dapat tertekan lebih rendah dibandingkan pada periode 2013 yang tertuang pada APBN,” kata Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Purwiyanto Pranotosuwiryo pada Seminar Kinerja Ekonomi KTI di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/12).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, perkembangan asumsi dasar ekonomi makro untuk tingkat pengangguran pada RAPBN 2014 tercatat 5,6-5,9 persen, sedikit lebih rendah dibanding APBN Pokok 2013 yakni 5,8-6,1 persen. Angka kemiskinan pada RAPBN 2014 diasumsikan 9,0-10,0 persen atau lebih rendah daripada APBN-P 2013 yang masih mencapai 9,5-10,5 persen. “Dua indikator ini merupakan penentu tingkat kesejahteraan suatu masyarakat  dalam wilayah tertentu,” kata Purwiyanto. (Ant)
Bisa kita jelaskan rinci dari kasus diatas bahwa kemiskinan bisa ditekan apabila pihak pemerintah mampu dan benar-benar mau mengurangi angka kemiskinan tersebut agar negaranya bisa mangalami kemajuan yang pesat dan hal itu bisa terjadi asalkan warga negaranya juga ikut bekerja sama dengan pemerintah dan semua pihak yang terkait agar angka kemiskinan bisa di tekan atau mungkin bisa dihapuskan.
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar